
‘bahasa tana’ bahasa ibu orang Maluku
9 Agustus 2007“iwato ela painom k, o hei kepeng susah, hei kepeng akaho na susa painoi , lolo fue fufun anakolu isikora apina fia-fia, akang anau e jadi mansia ela a”
“hayo e hidop susa jua, mancari uang susa tar mancari deng tamba susah lai, loko punggul sadiki-sadiki jua par anana iskolah tu, la kata dong jadi orang sadiki”

“duh, hidup sangat susah ya, bekerja susah tidka bekerja makin susah, tidak apa-apa menabung sedikit demi sedikit buat anak-anak sekolah agar mereka menjadi orang yang pintar”
Sebenarnya posting ini sudah beberapa hari yang lalu telah tertulis namun masih banyak kekurangan sehingga masih bertahan didraft J dan selain itu juga secara kebetulan saya diminta sama Usi Luna untuk mengkoreksi memberi pendapat tentang bahasa tanah yang beliau tulis pada blognya , *aduh apa yang bisa saya koreksi karena saya aja masih banyak belajar juga nih hehehhe* jadi ya bisa sekalian, selain itu dari blogwalking di beberapa tempat saya menemukan tulisan-tulisan tentang bahasa ambon yang menggelitik hati saya untuk menulis posting ini.
Seperti quote diatas, pada quote pertama adalah ungkapan dari Bahasa Tana, kedua dari bahasa Melayu Ambon, di seluruh maluku dari Kei sampai dengan Ternate terdapat bahasa-bahasa daerah asli maluku yang disebut dengan ‘Bahasa Tana’ bahasa ini tidak hanya terdapat pada beberapa daerah atau desa-desa akan tetapi bahasa ini merupakan bahasa ibu orang maluku, Kenapa saya lebih menulis ‘tana’ dari pada ‘tanah’ walaupun artinya sama namun memiliki nilai yang berbeda dalam bahasa ambon, ‘tana’ dalam bahasa ambon bisa berarti tanah bisa berarti juga ditujukan kepada tanah leluhur di pulau Nusa Ina, sehingga bahasa tana dapat diartikan sebagai bahasa asli suku maluku.
Bahasa yang bermula dari pedalaman Nusa Ina yang dianggap sebagai pulau pertama orang maluku berdiam sebelum tersebar ke seontero maluku. Sedangkan bahasa ambon atau bahasa sehari-hari orang Maluku disebut dengan bahasa Melayu Ambon, yang dipergunakan hampir oleh sebagian besar orang maluku ini dalam komunikasi sehari-hari.
Sampai sekarang tidak kurang dari 117 Bahasa Tana yang terdapat di seluruh maluku ini, dan ada beberapa yang mengalami kepunahan, kebanyakan bahasa-’Bahasa Tana’ yang mengalami kepunahan adalah Bahasa Tana yang dipergunakan oleh desa-desa kristen baik di pulau ambon maupun di sebagian kecil pulau seram. Bahasa Tana pada komunitas kristen pernah dicatatat oleh Geogius Rumphius pada tahun 1987, yaitu di desa Hative dan Hitu, dalam laporannya ia mengatakan bahwa bahasa Ambon (hative dan hitu) sangat berbeda sekali dengan bahasa pulau-pulau yang berdekatan dengannya seperti ternate, makassar dan banda. dan dua bahasa ini yang telah dicatat oleh om george itu sudah punah tanpa jejak sampai sekarang. sedangkan pada komunitas Islam selain masih bertahan juga beberapa hari yang lalu baru diluncurkan “kamus Bahasa Tana Asilulu – Inggris oleh James T. Collins yang telah melakukan penelitian cukup lama tentang punahnya Bahasa Tana di Pulau ambon ini,
Apakah Bahasa Tana telah punah?
Saya sedikit tersenyum ketika membaca tulisan-tulisan seperti ini
“Para pemimpin upacara, dukun atau “orang pake-pake”, adalah komunitas pendukung Bahasa Tana itu. Bahasa yang dipakai ketika mereka berbicara kepada sejarah dan asal-usul mereka. Meminta dukungan dari para leluhur. Ini terjadi pada semua bahasa, yang tersingkir.”
“Sedangkan kebanyakan masyarakat Muslim Ambon masih mempunyai bahasa daerah sendiri yang disebut Bahasa Tana” [1]
Sebenarnya Bahasa Tana ini tidak pernah punah setidaknya sampai sekarang ini, sebab penggunaan Bahasa Tana ini masih dijadikan sebagai bahasa komunikasi sehari-hari pada desa-desa di pulau Seram, saya pun masih bisa menggunakan bahasa-bahasa tersebut dengan tetangga-tetangga saya walaupun kosakata Bahasa Tana saya minim sekali heheheh tapi moga-moga ga termasuk dukun deh.
Selain itu juga juga Bahasa Tana ini tidak lah menjadi bahasa komunitas orang islam saja akan tetapi seperti yang saya jelaskan diatas, Bahasa Tana adalah bahasa Ibu orang maluku, sehingga tidak hanya orangIslam saja yang menggunakan, orang Kristen pun menggunakan Bahasa Tana, walaupun pada komunitas kristen saat ini bahasa tanahnya hampir punah namun mereka mempunyai bahasa tanah juga.
Punahnya Bahasa Tana pada desa-desa Kristen
Penggunaan Bahasa Tana oleh komunitas atau desa Kristen tidak se-intens pada desa-desa Islam sehingga tidak mengherankan pada saat ini tidak terdapat lagi percakapan Bahasa Tana dikalangan komunitas Kristen, penutur Bahasa Tana dikomunitas Kristen hanya tinggal orang tua-tua dan mungkin satu dua orang pemuda yang masih berkomunikasi menggunakan Bahasa Tana, selebihnya Bahasa Tana dari komunitas desa kristen telah punah. Sehingga tidak mengherankan pada saat sekarang Bahasa Tana lebih dikenal di desa-desa Islam dari pada desa kristen.
Hilangnya Bahasa Tana di beberapa desa di Maluku Tengah maupun di Ambon khususnya desa-desa kristen tidak terlepas penjajahan belanda selama berabad-abad di Maluku ini, selain itu perlakuan berbeda yang diterima antara orang Islam dan orang Kristen pada jaman Belanda banyak mempengaruhi hilangnya Bahasa Tana tersebut, perlakuan Belanda dengan memberikan ‘hak’ yang lebih kepada orang kristen untuk bekerja sebagai penginjil maupun tenaga administrasi di pemerintahan Belanda waktu itu menjadi pemicu utama hilangnya Bahasa Tana, dan kebetulan bahasa Melayu telah bekembang diwilayah Hindia Belanda serta djadikan satu-satunya bahasa pengantar diseluruh wilayah ini. Dengan demikian setiap orang yang ingin menjadi pegawai mau tidak mau harus menggunakan bahasa Melayu tersebut dan juga pemakaian bahasa Melayu mempunyai prestise tersendiri pada waktu itu dikalangan orang-orang Maluku. Maka untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik dengan menjadi pegawai Belanda sehingga berbahasa Melayu adalah pilihan paling menggiurkan didepan mata, sehingga komunikasi dan secara perlahan Bahasa Tana tersingkirkan oleh bahasa Melayu.
Seperti yang dituturkan oleh Prof. James T. Collins pada waktu Kongres Internasional Bahasa-Bahasa Daerah Wilayah Indonesia Timur, di Ambon beberapa hari yang lalu. Karena alasan-alasan tertentu desa-desa dengan komunitas Muslim saat itu tidak pernah berpikir untuk melakukan hal yang sama, Itulah sebabnya bahasa-bahasa daerah maluku dari komunitas Islam relatif tidak mengalami kepunahan dalam kurung waktu yang panjang. Dan Hasil pembauran antara bahasa daerah dan bahasa melayu saat itu hingga abah 18 memunculkan bahasa ragam melayu dialek ambon yang dikenal sebagai bahasa “Malayu Ambon” yang terus berkembang sampai saat ini, namun pada perkembangannya banyak sekali istilah-istilah asing yang ikut andil dalam mengembangkan bahasa Melayu Ambon ini, terutama Belanda dan Portugis.
Akan tetapi bagi saya tidak semua desa-desa kristen mengalami hal tersebut, dan hal ini pun tidak terlepas dari cara belanda memperlakukan desa-desa tersebut, pada desa-desa Kristen di pulau Seram (dalam hal ini, Seram Selatan), penggunaan Bahasa Tana masih seperti desa-desa tetangga mereka yang Islam, Bahasa Tana masih menjadi percakapan sehari-hari diantara warganya, sehingga saya melihat kepunahan Bahasa Tana tersebut hanya berlaku pada komunitas desa-desa Kristen di Pulau Ambon dan Lease yang nota bene intensitas kedekatan dengan Belanda lebih banyak dari pada komunitas diluar itu.
Bahasa Tana di desa-desa Islam
Pada hampir setiap desa Islam dimaluku penggunaan Bahasa Tana masih menjadi prioritas utama, bahasa melayu ambon hanya dipergunakan pada saat-saat mereka berbicara dengan orang-orang yang dianggap tidak mengerti dengan Bahasa Tana yang dipergunakan didesa tersebut, salah satu contoh di desa islam pada belahan selatan Pulau seram, desa-desa semacam Tehua, Moso, Laimu, Laha Islam, Tehoru, Haya, Tamilow, Sepa, dan lain-lain. dalam percakapan sehari-hari mereka masih tetap menggunakan Bahasa Tana sehingga regenerasi Bahasa Tana tersebut masih tetap terjaga sampai sekarang. Akan tetapi setahu saya, di desa-desa tersebut bahasa yang mereka pergunakan dianggap bukan Bahasa Tana, Bahasa Tana bagi mereka adalah bahasa yang dipergunakan oleh orang gunung (suku terasing yang berdomisili dihutan-hutan) sedangkan bahasa yg mereka pergunakan disebut sesuai dengan nama desanya yakni bahasa laimu, bahasa tehua, haya dsb.
Seperti di desa Laimu, penggunaan Bahasa Tana ini menjadi semacam keharusan bagi pemuda-pemuda untuk berkomunikasi dengan orang-orang tua mereka, dan penggunaan Bahasa Tana ini tidak saja mereka pergunakan pada waktu mereka berada didesa tersebut saja, akan tetapi sampai di Ambon bahkan jakarta pada waktu mereka bertemu dengan sesama warga desa maka bahasa yang mereka pergunakan dalam komunikasi adalah Bahasa Tana, ungkapan “palaow, khabare na saim?” sebagai ungkapan pertama dalam bertemu atau indonya “halo, gimana kabarnya” masih terus dipergunakan. atau plesetan-plesetan bahasa tana logat jakarta “saim sih??” ada apa sih.
Saya ingat ketika pada waktu masih kuliah di tana jawa, bersama dua orang teman yang yang kuliah disana jga sempat menyusun kamus Bahasa Tana Laimu, dengan contoh cara penggunaannya dalam kalimat sebagian yang kami susun adalah sebagai berikut.
Contoh Bahasa Tana di desa Laimu
|
No |
Bahasa Tana |
Indonesia |
Bahasa Tana |
Indonesia |
|
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 |
San Lua Toi Vae Rima Noe Vitu Waju Siwa Hutu Hutusan elansan Hutu lua Hutulua elansan Yauw Yale Ae Kai Manawa Hihina Waelo Lawa Holahae Saka Moki Putu Lahito Taka kako ian |
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 20 21 Saya Kamu Makan Pergi Laki-Laki Perempuan Air Lari Buang Jaga Dingin Panas Baju Celana Lihat ikan |
Mahale Mauma Lalau Manlia Opatan Lotomina Halimuli Uma ela anan Ohaya Yai Lasa Milim Ohita Lipia Tita Asana Palaow Saim Sa’i Ujum Uvan Ahiyan Okue Sopayano Musupuru taho pangkara |
Bawah/Barat Atas/Timur Laut/Selatan Darat/Utara Menangis Depan Belakang Rumah Besar Kecil Pikul Kayu Babat Kebun Potong Sagu Jalan Pikul Bagaimana Apa Dayung Kepala Wajah Jelek Duduk Sholat Mengaji tau singkong |
Contoh penggunanan Bahasa Tana desa Laimu
“he o kako, o kako mahale ka iano oto le” artinya : eh lihat, lihat ke barat ikan banyak sekali”
“o kai lio?” a kai milim, ka a hita lipia a” artinya : mau kemana? aku mau ke kebun, hendak tebang pohon sagu dulu”
Ada ungkapan-ungkapan Bahasa Tana yang mempunyai arti yang berbeda apabila disambung dengan bahasa sehari-hari. selain itu juga kata-kata tambahan seperti “o, e, le, ka, dan lain-lain kadang membuat bingung juga. atau kalo datang ke ambon dan pingin mengerti bahasa tersebut digunakan bisa ikut dengan saya untuk melihat dan mendengar bagaimana sih bahasa tana yang dipergunakan sehari-hari itu.
[1]: quote dari usi Luna dan Om Bambang
*Foto : Kepala Suku Naulu



















![[Valid RSS]](http://almascatie.files.wordpress.com/2007/08/valid-rss.png)
wah susah juga ya, tapi kalo diajak ngomong pake bahasa indo ngerti kan
*mode serius on*
udah ada kursus kilatnya ga? CP nya mana?
*mode serius off*
#ayah shiva
hehehhe.. yups ngerti kok om, bahasa ini kan dipake untuk bahasa sesama mereka aja, kalo sama orang luar kadang mereka pake bahasa Melayu ambon juga kadang bahasa indonesia tapi logat ambon kental
#may
may mo kursus? nanti saya kasih kursus deh
tapi bayarannya gimana nih
*kabur*
duh ada aku .(ian)
namaku ikan ?
#Nayx
@_@ wah termasuk ikan mana nih kamu…. hehhehehe
Ahao e!
Beta perna dapa ajar basa tana tapi pelauw pung versi…biking testa pusing jua, maar sadap lai dengar dong pung bicara…
Oras beta bakudapa deng orang pelauw yang baru datang ke Surabaya, beta dengar sandiri dong bicara dong pung bahasa…
Hehehehe….
Ale wo’awo?
#bambang
hahhahaha Pelauw memang sadiki beda om.. tapi dengar dong bicara asyik..
“Ale wa`ati…….. ale wa`ato….. Ale wa ta lot to”
Indonesia benar2 kaya akan budaya ya…
BTW untuk 7 mirip dengan bahasa Jawa ya, kalau bahasa Tana “vitu” sedangkan bahasa Jawa “pitu”
#deKing
hehehe… iya ya.. pitu = vitu.. baru sadar aku hihhihi.. kok bisa ampir mirip gitu ya.. mungkin ada sejarahnya kali tapi belom ketahuan..
bib, asik banget neh tulisannya, informatif. Pengetahuan dan rujukan saya yang lemah itu, jadi malu dikutip.
Saya akan meraciknya lagi (tulisan saya itu.. merujuk ke tulisan ini.)I’ll let you know.
#usi Luna
wekz.. kok gitu ya heheheh tulisan usi yang pertama membuat saya semangat kok buat nulis post ini, wew.. okeh dah saya tunggu tulisan yang asyik dari usi luna nih..
Pelajaran sejarah to….
Mari berjuang menghargai dan menjaga bahasa daerah sebagai warisan budaya
hehehehe.. hampir mas..
cuman ngeliat hilangnya bahasa pribumi maluku yang menghilang akibat penjajahan
setuju mas! harus itu.. setidaknya postingan mas Parid nih jangan indo terus dong skali2 postingnya kaya kemaren tuh hehehehe
Dimasukkan ke wikipedia dong. Penting nih. Bagus euy.
#bangaitop
wew… hmmm insyallah saya coba masukkan pak…
iya.. ya.. literatur tentang ini di wikipidia ga ada sama sekali
makasih bang dah maen kesini dan kasih usul yang bagus…
*segera dilaksanakan*
Menurut saya, salah satu penyebabnya juga bisa berasal dari era globalisasi sekarang yang memaksa penduduk penutur bahasa lokal harus bisa berkomunikasi dengan penduduk luar. Sehingga generasi muda kini yang berorientasi global cenderung jarang memakai bahasa lokal dalam komunikasi mereka sehari-hari. Sebaliknya generasi tua yang teguh memegang adat dan penutur bahasa lokal jumlahnya semakin hari semakin berkurang. Tak pelak era globalisasi sekarang terjadi PENYAMARATAAN atau universalisasi kebudayaan, sehingga khazanah khas daerah menjadi hilang dan tergantikan dengan simbol-simbol universal seperti contoh Bahasa Inggris… Jeans?? Coca Cola?? hehehe… Saya juga termasuk doyan globalisasi loh… Tapi yang bermanfaat aja dan disesuaikan dengan budaya kita.
Salam kenal……….
ok sy spakat krena melihat dari perkembangan skarang mungkin da modrn lantas bahasa daerah sendiri di abaikan…..kl sy pikir bhs daerah tukan buat komonikasi rahasia……
#indra
bener boss..globalisasi dilain pihak menjadi bumerang bagi penutur bahasa tana, tapi untuk skarang ini dipedalaman seram masih banyak penutur2 yang bukan hanya tua tapi anak2 pun bisa bercakap2 dengan bahasa tana
#labholonk
hahahhaha kayak bahasa sandi yah
CONTOH BAHASA INDONESIA “gagal” DALAM
MENGKOMUNIKASIKAN bahasa-bahasa CREOLE
di INDONESIA TERLIHAT dari
acara-acara Televisi swasat,
dimana hampir semua PRESENTER
membawa acara dalam bahasa Melayu-Betawi.
Dibawah ini surat kami kepada seseorang
anak di ambonmanis.com semoga bisa
menerangkan masalah ini.
=============================
Bung _ on June 14 2007 09:45:09
Maaf beta kasi labe jelas lagi: 14/06/2007 08:51
Balas ade _di_ pung opini tentang DENIAS…
Batul Dian, ini yang dalam teori bahasa AKSI BICARA.
Aksi bicara ini tidak (kurang) dimiliki oleh Bahasa Indonesia
(yang NB adalah “bahasa Melayu Riau-Semenanjung Malaysia dan Brunei).
Contoh: [sorry dari terjemahan dari Kitab Raja2/Samuel):
Jadi kalau misalnya Goliath itu orang dari Jakarta (Betawi)
dia pasti bilang ke Daud sbb:
"Lu pikir gua ni anjing ye ampe lu dateng ame tongkat?!!"
sedangkan kalau Melayu Ambon sbb:
"Ale pikir beta ni anjing ka, sampe ale datang deng tongkat!!??"
Kalau di bahasa Indonesia:
"Anjingkah aku sampai kau datang dengan tongkat?"
Jadi AKSI BICARA itulah yang kurang dimiliki bahasa Indonesia
(Mungkin bagi suku Riau kata-kata
"Anjingkah aku....dst" itu sudah dianggap kasar bagi
bahasa suku ybs.,
tetapi belum kasar atau belum ada karakter bagi orang dari
suku Betawi atau Melayu-Ambn).
JADI ADIK DIAN dkk, disitulah letak permasalahannya.
Tentang contoh2 ceritera bahasa melayu-ambon adik Dian bisa
cari di buku karya DON VAN MINDE (kini Dekan di Univ. Leiden).
Bukunya berjudul : Melayu Ambong:..... tahun 1998?
Didalamnya (Bab 7) ada ceritera:
Kes deng Totoruga,
Nene Jaganti (Burung Kokong Hik) ..
Bab 1 s/d 6 berbahasa Inggris.
Serta Bab 7 nya berbahasa Melayu AMbon (+inggris)
Ada juga bagian2 Injil Lukas bahasa Melayu AMBON dan yang telah
diterbitkan GPM dalam bentuk Kalender, dan ada juga
Traktat Injil Lukas dalam Melayu Ambon (dengan refrensi kerja
dari bahasa Melayu Kupang), contoh sbb:
[Di bawah ini bisa didapat dari MAJALAH ASSAU,
yang diterbitkan PIKOM GPM, Ambon
--> Majalah Assau bulang Sept-Okt 2007 s/d yang bulan JANUARI 2008]
Lukas 6:37 dst:
“Seng bole cap orang sabarang, biar nanti ale dong lai seng dapa
cap sabarang. Seng bole kutok orang, biar sabantar ale dong lai
seng dapa kutok. Kasi ampong orang jua, biar nanti ale dong dapa
ampong dari Tuhan Allah. dst..”
Juga ada ceritera
“Perjalanan Guliver atau GULIVER DI TANA LILIPUT (dalam bentuk komik dsb..)”
Lukas 10:25 dst..
“Ada satu om bajalang dari kota Yerusalem pi turung ka kota Yerikho.
Takajo bagini, orang-orang jahat serang om itu di tenga jalang.
Dong kasi talanjang om itu lalu dong lari kasi tinggal om talunjur
di tenga jalang. Om itu jadi stenga-tuli tagal antua baru abis dapa pukol.
Seng lama bagini, seng sangka, ada saorang bapa-pandita lewat
di akang jalang tu. Bapa pandita lia om itu la bapa pandita bapingger
jalang pura-pura seng lia (antua seng nodek). Bagitu lai,
ada saorang suku-lewi ….dst….” GBU,
BETA BANGGA JADI ORANG MALUKU, TUHAN MEMBERKATI KATONG SAMUA’
bahasa tana dalam masyarakat maluku khususnya masyrakat yg mendiami negri adat utara pulau ambon dan pulau sekitarnya (salahutu,jezirah lei-hitu,sebagian jezirah huamual, hatuhaha) yang notabene beragama muslim dibagi menjadi dua jenis tingkat;
1.bahasa yang digunakan untuk percakapan sehari-hari (bahasa malai).
2.bahasa khusus yang digunakan untuk penghormatan, atau acara sumpah seorang raja adat(bahasa matuang).
bahasa tana sendiri pada setiap negeri adat berbeda-beda ring bahasanya.
contoh dengan malai dari ring negeri morela,mamala,hitu/hitumeseng,wakal,hila,dan kaitetu:
indonesia:satu,dua,tiga,empat,lima
bahasa tana(malai) :esa,lua,telu,hata,lima
pada jenis pertama(malai) bahasa ini masih sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari, walau dibeberapa negeri hanya dikuasai oleh orang yang berusia 30+ , namun bahasa yang kedua hanya dikuasai oleh tua-tua adat dan hanya beberapa negeri yang masih menggunakan bahasa ini dalam upacara tertentu.
kurangnya perhartian dari masyrakat serta instansi pemerintah membuat bahasa ini hampir dikatakan punah dibeberapa negeri adat. gempuran dari virus gaya hidup modern (baik oleh era kolonial maupun era informasi) mengusun pluralitas dan perubahan tak terkontrol sehingga membuat masarakat malu menggunakan atau menunjukan identitas aslinya.
berbeda dengan beberapa daerah berkembang seperti makasar, bali,dan sebagian besar daerah di jawa, seorang pemuda atau pemudi ambon dalam pergaulan sehari-hari akan dikatakan kolot bila berbincang dengan bahasa tana(malai), bahkan dibeberapa negeri adat seorang remaja dikatakn aneh bila menguasai bahasa matuang karena dipercaya oleh masyarakat setempat bahasa ini digunakan untuk berhubungan dengan mahluk-mahluk gaib.SALAM-SALOM
Oleh : Eddie Supusepa
Bila kamu ingin tahu
Mengapa tubuh hitammu berbekas
Tahun-tahun yang sudah berlalu
Bila kamu ingin tahu
Dari mana asalmu
Tanyakan kepada sejarah
Bila sungguh-sungguh kamu ingin tahu
Carilah di dalam hati sanubari
Hasrat hidup dan daya berjuangmu
Jakarta, April 1980
(Dari « Renungan Seorang Alifuru », Stichting ISDM 1990).
————————————
yame mansia Nusa Hualau lai wa’a Ama Huapolut…,laka taka Eti kula Sapalewa. yame pahuni hee Matasia
untuk belajar bahasa tanah bagaimana ya, ada yang bisa bantu?..saya ingin mengenal maluku lebih dalam..oh ia apakah bahasa tana maluku utara dan maluku berbeda?…
thanks ya
#bayu
paling bagus lansung terjun ato bergaul dengan pengguna bahasa tanah lansung.. maksudnya ke ambon gitu.. kalo hanya sekedar baca dari kamus masih belum maksimal karena intonasi suara dll…
uhmmm hampir semua bahasa tanah jangankan maluku utara dan maluku tengah.. di antara desa walo cuman berjarak beberapa kilo saja bisa beda sama sekali
makasih pak
Kalau untuk Jazirah Lei Hitu artinya Dari Allang sampai di Liang. Bahasa Tanahnya Belum Hilang, kalaupun di Desa-Desa Kristen Bahasa Tanahnya sudah Punah,akan tetapi Saudaranya yang di Desa-Desa Islam masih memakai Bahasa Tanah. Contah misalnya Waai yang Kristen Bahasa Tanahnya sudah Punah akan tetapi saudaranya Liang masih memakai bahasa tanah tersebut.
Liang dengan Waai memakai satu bahasa Tanah Karena mereka dalam satu Uli yaitu Uli Sailessi, Setiap perkumpulan suatu Uli di dalam Adat Hitu mempunyai Dialek Bahasa Tanah yang Sama.
#Halim Pelu
makasih pak.. engg pkalo seng slah kamus bahasa tanah hitu baru diterbitka yah?
Terima Kasih, atas tanggapannya.
Mengenai kamus Bahasa Tanah Hitu di terbitkan, saya pikir ini suatu kemajuan dan pemikiran yang bagus untuk masa depan budaya,adat dan bahasa Orang Ambon Agar tidak lenyap hilang ditelan oleh modernisasi jaman. Dan Menambah kecintaan terhadapan Budaya dan Adat istiadat yang ditinggalkan oleh para Leluhur Kita.
Semoga Upu Khata’ala selalu memberkati Kita semua.
“Somba”
Halim Pelu
#Pak Halim
sama-sama pak, iyah kalo ga salah tahun 2007 kemaren ada peneliti dari belanda yang melakukan penelitian bahasa tanah di jazirah hitu, tapi sayah belum sempat mendapatkan buku hasil penelitian bahasa tanah itu..
kecintaan terhadap budaya dan adat negeri ini makin lama makin hilang.. yah harap maklum kalo modernisasi lebih menarik dari pada sebuah tradisi sejarah.. kalo bukan sekarang entah kapan lagi.. ataukah kita mungkin hanya menunggu raja dan para saniri nya menjadi bahan pajangan di museum sahaja
salam
sbarnya hal ini merupakn kesedihan’q banyak tman2 dari etnis lain masih bisa menggunakan bahasa daerahnya….sedangkan aq gk bisa sama skali…..
LAGU GANDONG DALAM BAHASA MALAYU AMBON
GANDONG
Gandong Lamari Gandong Mari Jua Ale oooo
Beta mau bilang Ale katong dua satu gandong
Hidup ade deng kaka sungguh manis lawange
Ale rasa Beta rasa katong dua satu gandong
Gandong nge.. sio Gandong nge..
Mari beta gendong, beta gendong Ale jua
Katong dua Cuma satu Gandonge
Satu Hati satu Jantonge
Traslet Lagu Gandong dalam Bahasa Hitu Sekarang
GANDONG (LAHAT)
Gandong La Mai Gandong Mai Lo’oi Gandong nge….
Lo’oi yau atahia ite lua esai gandong
Hidup ku walia’a tolo moso-moso… E
Ale rasa yau rasa ite lua esai gandong
Gandong sio Gandong nge
Mai yau hahiti, yau hahiti Ale Uma
Ite lua cuma walia,a e…..
Lahat Esai, Esai Jantonge
#jLoen
engg… mang aslinya mana yah mba?
kalo maluku ayoh sama-sama belajar bahasa tanah dah :p
#Pak Halim Pelu
mantap betul.. belum ada yah pak yang nyanyikan dalam bahasa hitu nih…
engg.. gimana kalo pak Halim bikin sebuah kamus bahasa hitu saja pak.. kayak om bambang yang orang sby tapi bikin kamus bahasa ambon
makasih pak dah maen kesini…
yang terhormat almascatie,
kalau Upu Khata’ala berkehendak….. pasti akan terlaksana… saya sekarang belum bisa kebetulan bidang saya tidak disitu, saya hanya bisa memberi sprit untuk memacu kita tentang hal-hal mengenai kebudayaan dan bahasa Ambon.
Terima kasih
“Somba”
ada aplikasi kamus online punya yayasan Pattialam desa Hila, referensi dari bahasa orang Tana Hitu (sebagian Leihitu-Salahutu, bukan negeri hitu lama/hitu messeng skarng).mar situs masih banyak kekurangan index kata karna masih dalam tahap pengembangn dan percobaan, yang biking mahasiswa yang lagi magang.
alamat: http://pattialamxxx.awardspace.co.uk/
mase make domain gratisan, maklum lagi tahap percobaaan…smoga bisa membantu. salam-salom
salam kenal
tulisan diatas membantu bgt.kebetulan b lg mau nyusun skripsi judulx berhubungan deng bahasa tanah.b boleh minta usi luna/om bambang pung alamat facebook? soalx b mau tanya banyak mengenai bahasa tanah.
salam kenal mith… ngg.. usi luna ga terlalu aktif di FB.. sedang om bambang silahkan lansung ke blognya dia ajah.. beta jua seng talalu tau antua pung FB, silahkan kirim email ke almascatie[et]yahoo[dot]com ntar beta kasih tau antua pung nomor telp…
okeh thanks non………