h1

Wahai Star kapalkoe

12 Juli 2007

Hingga Kamis (12/7) siang, dari puluhan penumpang yang ikut pada kapal naas tersebut baru ditemukan 33 orang, dua diantaranya meninggal dunia, 27 orang dirawat di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr. Haulussy Ambon sedangkan empat korban lainnya terdampar dalam keadaan selamat di Pulau Manipa. [radio baku bae]

keluarga.jpg
:::Keluarga korban yang sedang menunggu berita di Pel. Yos Sudarso  Ambon:::

Musim timur begitulah orang ambon menyebutnya, musim yang diawali dengan guyuran hujan lebat dan bertiupnya angin yang mengakibatkan lautan menggila, ombak dapat mencapai 3-4 meter sampai2 bisa mengakibatkan putusnya transportasi laut di bumi maluku, kondisi yang membuat orang berpikir dua kali sebelum melakukan perjalanan keluar kota apa lagi keluar dari pulau ambon.

Kapal Motor [KM] Wahai Star, sebuah kapal kecil dengan panjang tidak lebih dari 15 meter, dengan sebagian besar terbuat dari kayu, seingat aku ketika aku masih merah putih [SD] kapal ini sudah berlayar melayani route Ambon dan Masohi, kapal yang dibuat 24 tahun lalu ternyata sampai sekarang (sebelum almarhum) masih setia melayani orang maluku.

Bisa dibayangkan sejak tahun 1983 sampai sekarang, bagi sebuah kapal 24 tahun bukanlah waktu sedikit, sebuah “kapal kayu” untuk tetap bertahan dari ganasnya gelombang laut, kapal yang seharusnya sudah menjadi bagian dari sejarah transportasi lau di daerah ini namun kapal kecil ini masih dipaksa sambil tambal sulam antara kayu dan fiber untuk melayani manusia dari satu pulau ke pulau lain, jika manusia maka kapal ini sudah terlalu tua namun diberi pakaian2 gaul agar tetap bisa disebut layak gaul.

Entah siapa yang salah, karena hampir sebagian besar kapal2 Motor yang melayani route antar pulau di maluku ini yang bisa menjangkau ke desa2 di kecamatan hampir semuanya adalah kapal2 angkatan 80 an bahkan lebih tua dari itu, ini tidak termasuk kapal cepat yang “hanya” melayani route ambon dan dua kota kabupaten yang baru dibeli pada saat tahun 2000 an namun pada kondisi cuaca seperti sekarang, kapal2 tersebut telah mundur dengan hormat untuk tidak berlayar. tidak demikian dengan kapal2 motor sejenis Wahai Star, dalam kondisi apapun mereka tetap berlayar, yang disayangkan kapal2 motor tersebut sampai skarang tidak mengalami regenerasi apalagi pergantian, yang ada hanyalah permak sana sini untuk menutupi kebobrokan kapal2 tua tersebut, namun yang diherankan kapal2 tersebut masih dibiarkan untuk tetap berlayar oleh yang berwenang, karena “dianggap” masih layak. tanpa kita tahu bagaimana metode mereka memberi stempel layak itu kepada kapal2 tua tersebut.

Wahai Star milenium adalah Wahai Star angkatan 80-an, dan entah ada berapa Wahai Star lagi di negara ini yang akan tenggelam ditengah samuderan dengan maupun bersama nyawa anak bangsa ditengah samudra sebagai wujud pengabdian terakhirnya.

———————-

Ga masuk ama tulisan diatas sih.. tapi ini kejadian kemaren pada saat terjadinya badai yang menghantam kota ambon, yah sekedar tambah2 tulisan aja biar panjang hahahhaha😀

laut satu

laut02.jpg

laut03.jpg

*Foto : Khalid Sabban

7 komentar

  1. Sepertinya sistem transportasi di negara kita sangat perlu diperbaiki (sementara faktor alam sedikit dikesampingkan).
    Kecelakaan lalu lintas udara, laut dan (apalagi) darat secara tidak langsung menunjukkan kelemahan sistem transportasi kita. Sepertinya perlu ada tim yang benar2 independen (dan kebal suap kalau ada :D) untuk melakukan evaluasi rutin kelayakan alat transportasi kita.
    Semoga pelarangan maskapai kita untuk ke uni Eropa bisa menjadi cambuk untuk negara ini


  2. saya, sebagai calon ahli transportasi laut, akan berusaha keras belajar dan berjuang demi kemajuan transportasi indonesia!!!

    *mengepalkan tangan, semangat*


  3. Sepertinya sistem transportasi di negara kita sangat perlu diperbaiki (sementara faktor alam sedikit dikesampingkan).

    Setuju!! faktor alam dibuang dulu sementara dari analisisnya pak guru.. benahi manusia dulu yang suka error

    @chiw imudz
    oooo ahlinya ini to tante Bu? baru tau aku…
    *kepalkan tangan kiri, semangat jga*


  4. lagi-lagi kecelakaan dilaut, sebenarnya ini bukan hanya tugas pemerintah, mereka yang punya kapal pun mestinya tahu kapan kapal itu seharusnya pensiun, dalam kasus ini wajar aja kalo hal terjadi, dari segi umur memang udah gak layak lagi untuk melawan ganasnya cuaca


  5. turut berduka cita…😦


  6. Eh ada kecelakaan maut lagi ya…
    Kecelakaan darat sich…setelah minggu yang lalu ada bus wisata masuk jurang eh kemarin ada tabrakan maut antara bus dan kendaraan umum di Nagrek…korban belasan orang😦


  7. @aRul
    makasih kang.. turut berduka cita atas matinya nurani para pemimpin kita jga!

    @deKing
    Kecelakaan terus, apakah generasi skarang adalah generasi bencana ?



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: