h1

antara padi dan sagu

18 Juli 2007

sagu.jpg

“pohon sagu” [1]

Sehabis membaca artikel mas deking tentang Kata-kata bijak yang kurang bijak… saya jadi ingat percakapan siang tadi di atas sebuah perahu motor tempel yang berjalan pelan2 akibat diterpa gelombang ombak utara dengan seorang bapak tua dari desa tetangga saya.

Percakapan yang biasanya dimulai dengan pertanyaan basa-basi ala kadarnya aja [tujuan, tinggal dimana, masih sekolah/kerja,  standart lah ] tapi mungkin ada satu tradisi di belahan selatan pulau Seram tersebut yang membuat aku selalu bersemangat, pertanyaan basa-basi ini mungkin aneh bagi orang yang baru pernah akan tetapi pertanyaan kecil ini kadang2 membuat kita untuk saling mengenal menjalin hubungan keluarga yang kadang sudah dilupakan oleh anak2 muda seperti saya.

Pertanyaan basa-basi yang selalu aku tunggu adalah “anak siapa kamu?”🙂 bukan apa2 pertanyaan ini adalah pertanyaan yang paling biasa aku dengar selama perjalanan menempuh arah dari kota kecamatan ke kampung tempat masa kecil saya dihabiskan, jawaban dari pertanyaan ini saya jamin akan membuka wawasan tentang hubungan keluarga kita sendiri, dari hanya sekedar hubungan keluarga dekat, sampai keluarga paling jauh.. [jauh sekali], bahkan hubungan keluarga dari keluarga nenek atau kakek tetapi bahkan sampai pada hubungan keluarga berpuluh2 tahun bahkan jika beruntung kita akan mendapat ceramah tentang kisah2 terjadinya setiap desa di pesisir pulau ini sampai bagaimana hubungan antar desa tersebut. dan tergantung dari kita sendiri mau mendengarkan ataukah mata akan terpejam diterpa angin laut.
Setelah ngobrol-ngobrol panjang lebar tentang beragam topik dari peristiwa terkini sampai pada kehidupan sehari2 bersama Bapak Haji Yanato, [begitu beliau memperkenalkan dirinya], ber-fam “Kumkelo” sebuah fam [marga] yang masih terhitung berasal dari desa tempat saya hidup, namun sudah berpuluh2 tahun sejak orang tuanya pak Haji pindah ke desa tetangga, orang tua sederhana dengan pemikiran cemerlang dalam memahami kehidupan ini.
Salah satu percakapan yang membuat saya tersentak adalah sentilan beliau tentang sifat orang maluku dibandingkan orang jawa, yaps selama ini orang maluku [orang ambon] lebih banyak dikenal sebagai orang2 yang berwatak keras dll, dalam kehidupan sehari2 ataupun dalam menghadapi masalah, profesi yang dijalani pung kebanyakan [yang selama ini dijawa] adalah preman dsb, kebanyakan lho tapi ga semuanya [termasuk saya :)]. masih ada profesi yang dijalankan juga tapi stigma yang terlanjur ditoreh adalah ya seperti diatas, orang maluku itu identik dengan preman.
“tidak usah kita jauh2 untuk mencari jawaban atas hal tersebut diatas, tapi memang sudah dari sananya” kata Haji Yanato, ada pepatah yang bisa membandingkan hal tersebut diatas, pepatah yang mungkin juga bisa jadi adalah Falsafah yang menjadi pedoman bagi kita sadar atau tidak, lanjut beliau.

 

pemudah_sagu.jpg

“seorang pemuda bersama sagu yang akan diolah”Salah satunya falsafah antara orang jawa dan orang ambon. Falsafah jawa mengajarkan untuk bersikap seperti padi, “Padi semakin tua semakin merunduk” yang menggambarkan tentang sikap rendah hati seseorang dalam mengarungi hidup ini, nah bagaimana dengan Falsafah ambon? jika orang jawa menggunakan Padi sebagai contoh dari kehidupan maka orang ambon memakai Sagu sebagai falsafah hidup mereka, beliau bilang orang ambon itu bersikap seperti sagu “selalu berdiri dengan tegak, walau lima menit kemudian tercerabut dari akarnya” yang penting berdiri dengan tegak menghadang semua gelombang yang datang, falsafah yang bila dipikir ada benarnya juga, walau hal ini belum menjadi sebuah pedoman yang disetujui secara umum oleh masyarakat maluku, akan tetapi dari cara berpikir pak haji Yanato setidaknya sudah menggambarkan tentang sikap “kewel” orang maluku sendiri, yang sangat keras dalam menghadapi apapun tidak masalah walau akan tercerabut dari akarnya 5 menit kemudian. yang penting adalah tunjukkan siapa dirimu dulu, urusan belakangan adalah nanti.

Tapi seperti kata-kata usi Luna Vidya*

“Orang Ambon mungkin terkesan kasar dan sangar. Mereka menjalani bermacam-macam profesi, dari preman sampai pendeta, tukang pukul sampai dokter ahli bedah. Ada yang mengembara sebagai penyanyi bar atau konsultan lembaga international. Tapi seperti nyanyian sendu dan pantun-pantun yang menggoda, hati orang Ambon mudah disentuh cinta. Hanya hati-hati, jangan sampai tagal cinta pun tahela, anda tergoda. Siapa tahu anda bertemu sisi laipose-nya. Celaka!”

[1] Potonya diambil dari sini : http://www.pacsoa.org.au/palms/Metroxylon/sagu.html
*poto kedua masih dari dalam tumpukan cd sendiri
*Luna Vidya, Reporter Panyingkul.com

31 komentar

  1. Yah menurut saya sebenarnya dari semua benda masih bisa kita jadikan landasan filosofi. Ada falsafah yang bisa kita ambil dari benda2 tsb.
    Nah jika kita benar2 menyelami falsafah tsb maka falsafah tsb akan menjadi landasan tindakan kita yang secara pelan MUNGKIN bisa berpengaruh pada sikap.


  2. iya pak.. banyak pelajaran yang bisa diambil dari alam ini, semua tempat adalah sekolah semua kawan adalah guru, kata si roem🙂


  3. OOT
    Sedang online to?
    Sdh dibilang jangan panggil Pak hehehe


  4. OOT jga
    hahahahha siap kang deking.. iya ge online terus🙂


  5. tapi ada juga lho, falsafah ‘merendahkan diri meningkatkan mutu’, alias pura-pura nge-rendah trus ujung-ujungnya narsis, he he he…

    btw, saya juga dulu pernah ngobrol, tentang bagaimana ‘menjinakkan’ orang lampung (seperti saya) yang butuh usaha lebih keras dibanding orang jawa. falsafahnya diambil dari huruf tulisan. Kalo dalam aksara jawa, konsonan dibentuk dari aksara yang diberi tanda seperti dipangku, sedangkan dalam aksara lampung, konsonan dibentuk dari tanda seperti dipenggal/dipentung. Jadi menurut orang-orang, untuk ‘mematikan’ orang lampung mesti pake cara keras, sedang untuk ‘mematikan’ orang jawa cukup dipangku-pangku, nanti ‘pakewuh’ sendiri… wallahu’alam.


  6. tapi apakah dibenarkan jika harus tetap berdiri tegak akan keyakinannya yang salah


  7. filosofi meluluuuu……pusing ni kepala !!!! yang penting jangan terlalu merendahkan diri, nanti diinjak orang loh !!!!! dan juga jangan terlalu memaksakan diri untuk bersikap tegak, kalo udah nggak kuat lagiiii….. entar susah sendiri… hehehe…hehe. Jadi lebih baik santai2 aja, menikmati hidup ini !!!! karena kita tuu nggak tau sampe kapan, kita bisa berada di bumi ini !!!!!! gituuuuuuu…….. hahahaha…..


  8. #n0vri
    wah falsafah baru mas ya.. hehehe mungkin hal ini jarang digunakan skr, tapi setidaknya hal2 tersebut dapat menggambarkan mengenai tipikal dari daerah masing ya mas..

    #ariwibowo
    Mungkin ya mungkin jga tidak.. kadang2 fanatik buta terhadap sesuatu membuatnya tetap berdiri keras, semua kan relatif.

    #eRNa
    hiihihihi…. sepakat.. kayaknya ilmu padi sama ilmu sagu digabung aja biar mendapat bibit yang dapat bersikap seperti itu.. gimana🙂


  9. falsafah hidup emang beragam, ‘sepertinya lain ladang lain belalang’. tapi bukan mustahil lho orang maluku memakai falsafah orang jawa ataupun sebaliknya. kalo menurut saya sih soal filosofi kehidupan bisa kita peroleh darimana saja. *nyambung gak ya?*:mrgreen:


  10. #andalas
    semuanya emang ga mustahil kok.. kan jaman globalisasi wakakkaka.. tapi asal ga pake filosofi batu aja.. sekali kecebur ga naek lagi😀


  11. kalau padi lalu jadi beras. dimasak terlalu lama jadi bubur. nasi sudah menjadi bubur.

    kalau sagu? bisa tahan lama. terus filosofinya apa ya?


  12. keris dan sangkur VS parang salawaku…. pertautan sekaligus perdebatan panjang nilai2 budaya memang tak ada habisnya.. Nilai filosofis dibalik benda- terkadang menggugah nalar tuk mencerap setiap objek dan memilahnya ke berbagai makna-makna. Tapi biarlah makna-makna filosofis tinggal diam dalam ketenangan maknanya. Dan subjek pemberi makna kian hidup sejahtera dan terus memberi makna pada obejk2 yang lain.

    nb : MAKAN SAGU SEHAT LHO…

    WASALAM


  13. #munggur
    sagu jga tidak bertahan lama, kadang menjamur tapi sagu tetap sagu, mungkin terlalu idealis kalo mengatakan bahwa kesetian terhadap apa yang dipegang akan dibawa sampai lapuk/mati.. wallahu alam

    #mdee
    filosofis sekali hehehehe..
    nb: baru mo dipromosikan kan?
    OOT : su bangung jua ka kawan e.. su bae ka balom tuh..🙂
    beta ad tunggu ale diwalang


  14. waduh sudah lama tidak makan makanan dari sagu…

    kapurung kalo orang daerahku (palopo, luwu dan sekitarnya)kalo ambon seperti bapeda atau bugalu…. hehehhe🙂


  15. Eh di tempat saya (Jawa Tengah) ada juga yang mengolah sagu lho mas. Tapi namanya gélang dan biasanya dibuat semacam agar-agar kampung gitu
    Oh ya salam kenal dari warga baru (baru buat kemarin :D)


  16. #aRuL
    hehehehe kangen nih makan sagu ya🙂 mo dikirim?

    #beginiadanya
    wew gelang? kayaknya belom pernah coba tuh aku, rasanya kaya apa ya.. aku pernah coba bubur sagu doang😀
    *penasaran banget*
    salam kenal jga.. sama2 warga baru kok


  17. Ternyata karakter orang memang terbentuk dari falsafah hidupnya.:mrgreen:


  18. #danalingga
    bisa jadi, karakter dasar secara umum yang tidak bisa dihilangkan sampai sekarang.😀


  19. danke banya’2, sudah mau ngutip tulisan yang kemudian saya pikir akan sangat sulit dipahami oleh mereka yang beruntung telah mengakar pada tanah mental bernama “orang ambon”, saya mungkin gagal menjelaskan posisi saya sebagai orang yang berusaha memasuki wilayah itu, di tempat asing. Ketika “ambon” adalah sebuah rujukan kepada sebuah tempat yang lain, kata penunjuknya “di sana”, bukan “di sini”. sesuatu yang hingga sekarang saya sendiri masih belajar untuk mengenal denyut jantungnya. Untuk beberapa alasan.. saya memang ambon kart. terimakasih sekali lagi, untuk memilih bagian yang manis itu sebagai kutipan. Salam.


  20. #usi Luna
    wew.. sangat tidak terduga…. dangke sudah main kesini.. makasih, tulisan usi sangat bagus sekali, jujur dan apa adanya, sesuatu yang kita disini (ambon) sering jalani tapi tidak tau mengungkapkan tentang tradisi tersebut, saya tidak tau nih mo ngomong apa…🙂 *masih kaget aja*
    btw ambon kart masih ada kah usi? bukannya sudah habis dimakan jaman..? tapi ga tau kalo masih ada ya.. julukan yang sangat mengkotak2an mungkin bagi saya disini skr, ambon tidak butuh banyak perpecahan yg ada hanyalah sapa yang ingin membangun ambon, tidak peduli ambon kart atau ambon dalam kampung.. tidak perlu ada pengkotak2an sih..
    sekali lagi makasih usi luna, -maaf beta panggel usi-


  21. euh… memang biasanyah filosofi teh diambil dari yang paling keseharian atuh… tapi yah memang kalau padi harus dimasak dulu… ngga bisa makan berasnyah… kalau sagu kering mah enak juga langsung dicelup ke teh manis… yah kang almas…


  22. #sikabayan
    *lama bales*:mrgreen:
    wah.. kalo sagu juga dimasak dulu kang.. kalo lansung dimakan bisa-bisa pingsan lagi kang :))


  23. salam kenallll


  24. q cayank k_moe…..


  25. #nurul
    slam kenal jga

    #mie😯


  26. hay…..taman2 orang ambon yg ada di sluruh nusantara…slam knal dr BETA anak ambon asli,tapi skrg mrantau di pulau jawa (S O L O)

    kangen mw kembali lg k ambon,,

    slm kenal wat cemua,almas,si kabayan euy,nurul,dll aja deh>>>

    ni no q :::085 742 153 445 >> 085 228 977 823…..


  27. hi salam


  28. hahhahahaheeeeeeee (ada yg bilang ini tatawa khas org ambon)
    ini beta nih eeee…
    keren abang… like banget…

    @syahranieidho


  29. abang beta mau tamba sadiki jua,, tentang filosofi sagu,

    POHON SAGU itu selalu tumbuh dkt dng pohon sagu yg laen,

    nah katong orng AMBON jga sama kyk gtu,katong seng bisa hidup tapisa
    dimana pun katong berada pasti katong akan cari ktng punk sodara-sodarah yg dari AMBON,biar ktng bisa hidup sama-sama…

    tarima kasi banya abang

    RISMAN SILAWANE

    b di malang


  30. terima kasih untuk tulisan yang bagus ini…


  31. orang maluku keras kepala, seng bs dipaksa. yaaa… itu yg terjadi. kita orang jawa ajak atau minta tolong lakukan sesuatu, bilang kita suka suruh2, paksa. adooo…. salah paham taruuuuss, paleng pusing kalo su bagitu😥



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: