h1

‘ewang’ku itu hutan

1 Agustus 2007

hutan.jpg

 

– Hutan di Kab. Seram Barat –

Gerakan Perempuan Peduli LIngkungan Hidup (GPPLH) Jakarta Utara, mencanangkan penanaman 25 ribu anakan Jati Mas di desa Kamarian, Kec. Kairatu. “Penanaman ini sekaligus menunjukkan bukti konkrit kepedulian aktifis perempuan lingkungan hidup terhadap masyarakat”.

GPPLH, sebuah organisasi yang telah melanglang buana dan bercita-cita untuk menghijaukan indonesia, cita-cita yang harus didukung oleh segenap rakyat diNegara ini demi kelestarian alam yang telah musnah oleh tangan2 kotor. namun sayang cita-cita ini bagi saya hanya sekedar slogan belaka yang tidak ada maknanya. Bukan saya tidak setuju dengan reboisasi yang akan dilakukan akan tetapi setelah membaca berita itu, dan apalagi saya mereka adalah kaum ibu yang telah rela menyisihkan waktunya demi bangsa kemajuan bangsa ini.

Namun membaca berita diatas ingatan saya melayang pada sebuah kalimat diakhir email dari seorang ibu yang tidak saya kenal, seorang ibu yang tinggal dibelahan dunia super power dengan keangkuhan teknologi, seorang ibu yang saya kenal di dunia maya, namun mempunyai kesamaan dengan saya yaitu sama-sama berasal dari bumi rempah-rempah ini dan sama-sama ingin membangun negeri ini. dengan akhiran email yang sangat menyentuh.

Nyong…. bagitu dolo jua eee….. beta skarang jua ada pikir bagemana supaya bisa jaga desa2 yang masih bersih dan alami, dari pencemaran lingkungan seperti yang terjadi di lateri tu…..

“nyong gitu dulu ya.. saya skarang jga sedang berpikir gimana agar bisa menjaga desa-desa yang masih bersih dan alami dari pencemaran lingkungan seperti yang terjadi di Lateri itu.”(indonesia)

Entah kenapa saya membandingkan sang Ibu ini dengan sebuah organisasi yang nota bene mempunyai cabang dan ribuan anggota, yang dapat menghijaukan negeri ini dengan sekali kegiatan, mungkin bagi saya adalah cara berpikir mereka yang sangat berbeda bagai bumi dan langit. Dengan tidak mengurangi rasa hormat saya untuk ibu2 yang telah susah payah menghijaukan negeri ini, hanya cara berpikir mereka dengan sang Ibu yang sangat berbeda bagaikan bumi dan langit.

Impian sangat sederhana dari sang Ibu yang telah mengirim email kepada saya tersebut telah direalisasikan dengan membuat yayasan dimaluku sini dengan tujuan untuk mendidik anak-anak kecil disebuah desa dipedalaman pulau Seram, selain itu kegiatan yg ditujukan kepada anak2 tersebut beliau juga mendidik petani dari beberapa desa tersebut dengan mengajarkan sistem perkebunan organik kepada masyarakat sekitar.

Kembali kepada topic berita diatas, bagi saya pemilihan pohon jati sebagai media reboisasi merupakan kesalahan yang telah dilakukan oleh mereka, walaupun ada bibit buah-buahan yg hanya sebagian kecil, mungkin bagi mereka reboisasi dengan media jati sangat bermanfaat, tapi pertanyaannya bermanfaat bagi siapa? apa yang bisa dimanfaatkan masyarakat desa kamarian dan desa-desa lain di Maluku ini dari sekian ribu jati yang ditanam, apakah penanaman pohon jati tersebut dapat menjadi hak milik masyarakat untuk menebang dan mempergunakan pohon tersebut sebagai hak milik sendiri atau hak adat seperti selama ini berlansung turun temurun di Maluku ini.

ikan_salahutu.jpg

 

 

– sungai yang masih alami di gunung salahutu –

Sebuah kegiatan reboisasi yang saya anggap kurang tepat, pertama masyarakat tidak mungkin akan menjadi bagian dari pengelolaan pohon jati tersebut, pohon jati yang ditanam ratusan hektar hanya akan menguntungkan pengusaha yang mendapat ijin untuk mengelola pohon-pohon itu, apalagi dengan penggalakan ilegal loging yang terus menerus maka apabila masyarakat mempergunakan pohon2 tersebut apa tidak dikenakan hukuman karena ilegal loging? walaupun hanya beberapa pohon saja. ini yang tidak dipikirkan oleh para ibu-ibu tersebut. telah banyak contoh ditempat lain, hak penguasaan hutan jati selalu dimiliki oleh para pengusaha-pengusaha, masyarakat hanya memiliki sebagian kecil atau bahkan hanya sebagai buruh di tanah sendiri.

Dan kini dengan berkedok reboisasi hutan2 diMaluku hendak dijadikan hutan industri, hutan jati tidak pernah menjadi hutan tropis hutan jati hanyalah hutan industri yang siap dipanen ketika waktunya tiba, sangat disayangkan hutan-hutan yang selama ini menjadi penyambung hidup masyarakat kamarian dan maluku harus menjadi hutan yang hanya menguntungkan sebagian kecil orang. tidak tepat ketika masyarakat perlu diberikan pendidikan bahkan pengetahuan untuk menjaga lingkungannya, seperti yg dilakukan oleh sang Ibu diatas yang mencoba memberi pengetahuan agar masyarakat semakin pintar mengelola dan menjaga kelestarian alam tersebut.

20 komentar

  1. wow… salut banget tuh…

    sedih juga sih kalau lihat kenyataan hutan Indonesia tinggal 30%, memang sudah saatnya back to nature


  2. *mode bener on*
    semoga makin banyak orang Indonesia yang sadar akan lingkungan (terutama generasi mudanya).
    *mode eror on*
    mari blender rame-rame para pembalak hutan.


  3. #xwoman
    setuju…. mengelola hutan dengan kesadaran bukan dengan ukuran kantong

    #may
    *mode bener on*
    yups.. moga2 semua ga hanya mo jadi pengusaha yg merusak lingkungan.
    *mode error on*
    ngapain diblender? digantung aja trus kasih madu biar dikerubuti semut ama lebah….😀


  4. Reboisasi dengan jati mas yang notabene adalah jenis jati yang memiliki akselerasi pertumbuhan yang mantap. Semoga saja pemilihan jenis pohon tsb bukan atas pertimbangan “cepat panen” karena jika ketika melakukan reboisasi sdh terlintas pikiran seperti itu maka kemungkinan ya pohon2 itu nanti akan mereka panen😀
    Tapi ya semoga saja pemanennya adalah masyarakat setempat.
    BTW itu sungai mantap banget


  5. hutan indonesia,,,, yang selalu dibanggakan…
    lama-lama pasti bukan lagi menjadi sebuah kebanggaan..
    yah begitulah indonesia..

    indonesia oh indonesia..


  6. ironisnya lagi hutan itu rusak karena pemerintah mau memberikan ijin untuk perambahan hutan demi kepentingan bisnis setelah pemerintah di beri sejumlah upeti


  7. halo salam kenal! ^_^
    emmm ‘ewang’ itu apa sih???
    wah gambar sungainya tuh benar2 jernih. ada ikannya pula, ikan apa ya itu? lele, belut?


  8. #deKing
    semoga kang, asal jangan dituduh ilegal loging😦

    #rickisaputra
    trus apa yg bisa dibanggakan lagi, paleng ya kita bangga dengan sejarah doang deh🙂

    #ayahshiva
    sikap yg sudah menjadi hukum bayangan dinegeri ini, ada uang ‘tuan’ tidak ada uang ‘budak’.

    #Ipa Satu Community
    salam kenal mas/mba
    `ewang’ itu bahasa ambon hutan tapi lebih pada hutan adat yg alami..
    sungainya bagus sih, masih alami ikannya bukan lele bang, tapi ikan morea/belut…


  9. euh… *kang minta sagunyah sedikit atuh*
    *celup2 sagu sama cikopi*
    mudah2an inih teh bukan tehnik penguasaan lahan yah..
    gundul+tanam+gundul=gundul…🙂
    *tidur pakai tikar di ewang*


  10. wadoh, gawat kalo reboisasi cuman jadi kedok buat dipanen di masa depan, bisa gundul lagi, ya kalo direbosisasi lagi..😐


  11. #kabayan
    *iya ini ada akang sama kopi panas ga sedikit lagi.. silahkan ambil sepuasnya😀 *
    bukan teknik penguasaan kang.. tapi teknik cari nama doang…
    #macanang🙂 pikiran pengusaha kok dilawan … hehehhee


  12. saya baca artikel ini kok malah terbayang keindahan maluku ya, apakah memang seindah imajinasi saya ini?:mrgreen:


  13. setujuh !!!
    saya lebih menghargai usaha si ibu yg kirim email itu. Tanpa gembar-gembor tapi ada langkah nyata. Yg saya maksud langkah nyata bukan sekedar menanam, namun beliau berpikir jangka panjang yakni dengan mendidik anak-anak serta melatih petani.

    Kalo yg ribuan itu mah, sama kayaknya dg di daerah lain, akhirnya dinikmati oleh pemilik modal, sedangkan rakyat jadi penonton di halaman sendiri.


  14. #danalingga
    mas dana… maluku masih tetap indah kok🙂 tapi kalo kotanya jangan ditanya deh.. hancur berantakan…:mrgreen:
    eh imajinaasinya gimana nih🙂

    #cakmoki
    yups.. saya juga setuju tuh cakmoki sama ibu itu.. doakan aja ya tanggal 24 ini beliau datang.. dan moga-moga saya bisa ikut untuk melihat kegiatan si ibu di desa2 tersebut🙂
    *itung-itung kopdar gitu😀 *


  15. ayo tanam pohon yang banyak mencegah erosi dan pemanasan global

    With Love
    Nela


  16. hutan q gundul kpala q gundul”rambute leleh”


  17. kurang bagus


  18. ayoooooooh…. tanam satu pohon merupakan satu penghargaan kita pada lingkungan yang menjadi tempat kita berlindung.


  19. ayo smua gerakan lingkungan hidup di tingkatkan agar bumi kita slamat !!!!!!!!!!!!!!


  20. dari dulu kairatu terkenal dengan keasriannya,meskipun ada pabrik yang besar seperti djayanti group pantai,sungai tetap besih.dash 10 tahun gak pernah lagi ke kairatu,rindu banget dengan tanah kelahiran ku



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: