h1

Upulatu dan Sebait Kisah Tragis

24 Februari 2008

Upulatu dan Inalatu biasa kedua kata itu bersanding, mengucapkan keduanya seakan-akan kita terbawa oleh aura kemagisan dari dua kata sakral tersebut, tidak saja bermakna sebagai pemimpin tertinggi dalam jabatan adat di tanah rempah-rempah ini, upulatu adalah pemimpin diatas para raja yang bertahta dalam pranata sosial paling rendah dalam sebuah kesatuan sosial masyarakat atau desa, upulatu bahkan kadang menjadi takdir bagi mereka2 tidak hanya memiliki kearifan, kebijaksanaan, kepemimpinan namun lebih dari itu, upulatu bersanding sebagai penerjemah bahasa tuhan kepada para ummatnya. Upulatu menjadi sebuah jabatan turun temurun dalam sebuah kerajaan yang masih berada pada tingkat feodal dimana kepimpinan tidak hanya berada pada kekuasaan uang semata, tapi lebih dari pada tingkat kewibawaan, kearifan dan kebijaksanaan menjadi aura pada seseorang yang membuat orang lain tunduk, terikat sekaligus menggantungkan harapan mereka pada seseorang.

Kekuasaan seorangUpulatu tidak berakar pada sistem pranata sosial dimana dia hadir dan mengejawantah diantara mereka, lebih dari itu Upulatu membawa beban puncak seluruh anak cucu yang percaya bahwa mereka masih berasal dari Nusa Ina, pulau dimana seluruh anak manusia pada kepulauan Maluku berasal sekaligus berpencar menjelajah setiap jengkal tanah dan mendirikan kerajaan-kerajaan mereka sendiri terpisah dari asal mereka pertama, namun keberadaan dan persamaan mereka dari sebuah pulau yang bernama Nusa Ina membuat mereka menjadi yakin akan persaudaraan, persaudaraan-persaudaraan yang menjelma menjadi budaya yang sakral dan pantang dilanggar diantara yang mengucapkan sampai kepada anak cucu, budaya yang sampai sekarang masih menjadi kebanggaan bahkan ikon kebersamaan, persaudaraan, kepercayaan dan hal-hal lain yang membuat mereka masih mengingat tentang asal mereka nusa ina, Pela dan Gandong dua kata yang mempunyai arti lebih bagi pribadi2 yang mengikat sumpah setia dalam ikatan tersebut, Pela dan Gandong kadang mempunyai arti yang sama bagi sebagaian orang, tapi bagi mereka yang terikat dengan sumpah ini, Pela dan Gandong menjadi arti yang sangat penting, “Pela” adalah pembai’atan antara dua desa atau kampung dalam bahasa ambon yang merasa senasib, sesaudara tapi terputus pada pencarian silsilah dimana mereka bermuara pada sungai yang sama, “Gandong” mempunyai arti yang sedikit lebih emosional dan historis karena Gandong atau gandung dalam bahasa ambon mempunyai arti sebagai saudara gandung seayah-seibu, dan Gandong dapat berarti walaupun mereka mempunyai tempat tinggal berbeda namun mereka adalah saudara kandung yang tidak dapat dipisahkan, tingkat persaudaraan yang kadang sudah tidak bisa ditelusuri kejelasan maupun alasan ilmiahnya.

Namun ikatan Gandong menjadi sedemikian kuat sampai2 jika ada seorang gadis yang hendak menjalin hubungan dengan seorang pemuda, maka yang ditelusuri adalah marga gadis maupun pemuda tersebut jika terikat Gandong maka dipastikan terjadi pertentangan atau dengan sukarela mereka memutuskan untuk menjadi saudara dan tidak ada keinginan untuk melanggar sumpah tersebut, kekuatan sumpah Gandong menjadi larangan untuk tidak berkumpul atau bersatu seorang pemuda dan gadis dalam ikatan lain karena diantara mereka terdapat garis keturunan sedarah.

Sumpah-sumpah maupun bai’at yang dibuat secara sadar maupun secara sosial mengangkat mereka dalam kebersamaan nasib dalam perjuangan hidup, saat para raja dalam kehidupan mereka menjadi semakin lemah untuk bersikap sebagai pemimpin adat, spritual, ekonomi, sosial bahkan lebih lemah dari pemerintah yang mencabik2 kehidupan mereka menjadi penjara-penjara manusia yang berjalan, saat Sasi telah berganti dengan kegiatan penghijauan, saat pala dan sagu diganti padi dan kelapa hibrida, maka saat itulah rakyat negeri ini menjadi kehilangan pemimpin, saat pendidikan yang katanya penjamin masa depan malah menjadi pencabut generasi mereka dari lingkungan tempat tinggalnya yang menjadikan anak-anak mereka menjadi generasi pemimpi sekaligus generasi Baut dan Mur pelengkap struktur, saat itulah Upulatu yang seharusnya ada menjadi semangat dan ruh kehidupan bagi mereka dibutuhkan.

Tapi Upulatu dan Saniri serta Kapitan menjadi semakin lemah, ketidakberdayaan seorang upulatu untuk memimpin bukan karena ketidakmampuan pribadi, tapi lebih pada ketundukan seseorang pada sistem yang berlaku yang mengikat kedua kakinya sampai akhirnya sang upulatu pun bersimpuh menyerah terhadap waktu yang terus berlalu. Upulatu masih menjadi kebanggaan tersendiri, namun makna upulatu sudah bergeser jauh, upulatu tidak lagi sebagai angin sibu-sibu saat terik panas matahari, upulatu bukan lagi colo-colo untuk menemani ikan bakar sambil berdendang dipinggiran pantai, upulatu menjadi simbol ketidak berdayaan sekaligus penyerahan total nasib generasi ini dikepala-kepala yang tidak mengerti tentang sasi dan papeda, upulatu hanyalah gelar untuk memuaskan hasrat primitif sahaja, hasrat yang dibentuk tanpa ingin membuatnya hidup, hasrat untuk dipertahankan sekaligus dilumpuhkan secara total dan permanen.
Upulatu masih menjadi kata yang magis setidaknya hampir magis dengan Upu Latane dan Upu Hanite tapi dibalik itu, upulatu telah menjadi tombak-tombak bersejarah, pancang-pancang bersilang berbendera merah kain adat tempat Sasi dipatuhi puluhan tahun lalu*, upulatu telah menjadi angin sibu-sibu yang menidurkan tanpa bangun kembali. Upulatu menjadi pohon tua dan para ilalang merambatnya tanpa ampun seakan-akan diatas pohon itu tidak ada lagi kebijaksanaan yang perlu dipelajari, Upulatu perlahan-lahan tenggelam dibalik meti tempat ikan-ikan cakalang maniso menunggu para Tanase memimpin arumbai menari diatas mereka sambil mendengdankan lagu kehidupan.

Keterangan.
– Upulatu : Tuan Raja / Bapa Raja
– Inalatu : Ibu Raja / Istri dari Upulatu
– Nusa Ina atau Pulau Ibu sekarang bernama Pulau Seram tempat suku asli maluku berdiam yaitu “Alifuru”
– Sasi : merupakan Hukum adat yang melarang pengambilan hasil hutan atau laut dalam jangka waktu tertentu dan yang melanggarnya mendapat hukuman adat yang jauh lebih efektif dalam pengelolaan keseimbangan hutan dari pada UU perhutanan yang dibuat dan diterapkan secara sporadis.
– Saniri : Para Pembantu Upulatu atau dijaman skarang dikenal sebagai pegawai administrasi
– Kapitan : Para panglima perang untuk menjaga keamanan sekaligus sebagai para pejuang dalam mempertahankan maupun menyerang tempat lain.
– Colo-colo : amper mirip coca-cola *halah* makanan khas maluku yang.. uhmmm susah dijelaskan hihiihihi
– sibu-sibu : angin sepoi-sepoi
– Upu Hanite : Tuhan yang mengasai langit dan angkasa
– Upu Latane : Tuhan yang menguasai Bumi serta isinya
– Tanase : pemimpin penangkap ikan dalam arumbai.
– Arumbai : perahu besar tanpa layar yang digunakan untuk menangkap ikan

* Sasi biasa ditandai dengan tanda silang dua batang bambu dan diikat kain merah, selama tanda tersebut masih berdiri maka itu tandanya Peraturan sasi masih berlaku sampai diputuskan oleh Upulatu dan para pembantunya untuk memberhentikan sasi dalam musyarawah adat.

dan terakher perut sayah kelaparan mbanget sampe harus kabur cepet sebelom pingsan didepan mahluk2 manis ini– *dirajam*

42 komentar

  1. *jubile kalo laper kok sayah dikit lancar ngetik yah* jujur gilani😆

    *ngumpet disemak2 makan colo-colo dan ikan bakar*


  2. heleh, panjang banget tulisannya, kemringet saya mbacane.

    *nyari semak-semak yang bau bakaran ikan*


  3. baru tahu kalo kapitan itu bahasa ambon

    *aku seorang kapitan, mempunyai pedang panjang..nanannii*


  4. #-=«GoenRock®»=-
    *bentar masih makan*
    weks kabur ke semak belukar😆

    #regsa
    reg.. bangun reg.. ini dah siang lho.. masa comment kok sambil tidur??? parah ni anak
    :p


  5. sebuah postingan bernuansa kultural yang mencerahkan sehingga bisa pembaca bisa memahami adat dan tradisi yang berlku di ambon. saya sudah sering mendengar istilah “pela gandong”, tapi baru kali ini bisa sedikit memahami maknanya. kayaknya ada unsur sakralitas dan bahkan magis yang tersirat di balik idiom itu. upulatu, ah, kalo boleh saya berpendapat, sebenarnya ini termasuk salah satu nilai kerifan lokal. bisa jadi seiring bergulirnya waktu, upuluatu agaknya sudah mengalami pergeseran makna. yups, semoga kultur ambon bisa makin memperkuat khasanah budaya nasional utk ikut mewujudkan peradaban yang damai, beradab, dan berbudaya.


  6. yang jelas nyang jadih upulatu bukan kamuh khan al? 8)


  7. Wah… ane demen ama ini fostingan. Seferti kata pak Sawali, nuansa kulturalnya kental. Tafi afakah kultur ini masih mencengkram kuat dalam tradisi dan budaya masyarakat Ambon bang?


  8. waduh saya belajar bahasa sono dulu deh…

    hihihih….

    ini kisahmu toh…
    eh….:mrgreen:


  9. dodot kirain nama pulau ato tempat wisata di bali


  10. ehikz, berat mbacanya..:mrgreen:

    colo-colo=celup-celup, yg pake “dabu-dabu” itu yah?
    *sok tau*


  11. maen-maen di beta pung kintal lai nyong.. mdee


  12. Absen ajha dech….


  13. ketidakberdayaan seorang upulatu untuk memimpin bukan karena ketidakmampuan pribadi, tapi lebih pada ketundukan seseorang pada sistem yang berlaku yang mengikat kedua kakinya sampai akhirnya sang upulatu pun bersimpuh menyerah terhadap waktu yang terus berlalu

    Lha yang membuat sistem tersebut siapa bro?


  14. mburine Liexs mas, absen + cari remukan colo-colo..


  15. wah panjang juga ya -> ngikut2 si you-know-who


  16. yah sudah semakin hilang…..


  17. Jadi ngerti sedikit bahasanya Almas…🙂


  18. waduh… saya bingung ngebaca nya.. nggak kebiasa kali yah… upulatu inalatu.. jadi patah patah nih lidah ngebaca nya…

    best regards,.


  19. Bersyukur dapat kosa kata baru bahasa maluku
    semoga semakin banyak yang menulis tentang daerahnya masing – masing
    khan demi suksesnnya visit Indonesian years 2008 , ya to


  20. Wah, panjang juga ya…😆


  21. Ada tempat kursus bahasanya gak??
    Pusing aku bacanya…heheheh


  22. 😯
    ini bkn tulisan ngarang krn perut laper kan??! xp
    *shock krn pjg bgt postingan si om kali ini*

    ntar komen lg deh kalo dt udah siap baca..
    *baru baca bagian penutup doank yg tlsn-a merah itu tuh..* :mrgreen:


  23. ajip… panjang sangat ni postingan

    *print aja dah*


  24. tulisanya panjang uanget..
    sebenernya mau baca, tapi lage puyeng😦


  25. Apakah Upulatu sampai saat ini masih ada ya Al?? seperti halnya di Kesultanan Ngajogjakarta Hadiningrat gitu?? Kalo ga salah, di Maluku ada kesultanan Tidore ya??


  26. dulu kalo nggak salah inget pernah belajar ini degh waktu di sorong… apa bukan ya…??? atau cuman sharing culture aja…???

    *buka-buka catatan*


  27. jadi upulatu itu raja daerah gt yah..well, di indonesia sy rasa pengaruh raja sudah mulai terkikis habis..padahal klo d negara lain yg dlunya juga kerajaan, kekuatan raja itu bs menjadi enforce utk pemerintah formal..sperti halnya upulatu ini,,


  28. panjang sekalee……
    anyway, welkam bek sayang😆


  29. sek sek…tak buka kamus sek ya, mas…


  30. klo almas sendiri dari Nusa Ina ga?

    boleh tuh colo-colo-nya,bagi donk


  31. postingan ini kok berbau magis sama seperti yg punya.

    benar2 blog yg aneh bin ajaib.


  32. Jujur saya ndak mudeng baca ini…

    *berlutut memohon ampun


  33. bahasa ambonnya apdett itu apa mas…???


  34. baca postingan ini…..
    gak tauk mo komen apa🙂
    *ikutan masuk ke semak2 cari bau ikan bakar*


  35. ooo…sibu2 tuh angin sepoi2 toh…*manggut2*


  36. Barangkali upulatu tinggal menjadi simbol, ketika tak ada lagi ruh upulatu yang dulu, ketika tidak memiliki hakekat upulatu itu *barangkali*


  37. sa suka postingan ini, blogger!

    salam.. su seng pernah baku dapa di chat box, jadi mampirlah saya kesini. Apa kabar?


  38. oh iya.. (he he he telat keingetnya).. maen kesini ya, ada beberapa foto cool, dari perjalanan ke Aceh..
    http://panyingkul.ning.com/photo/photo/listForContributor


  39. hahaa……..ternyata baru ku duga engkau adalah saksi sejar Upulatu bangsa alifuru…..okhe tooooooo


  40. wah hebat neh, laper laper tp msh bs nulis panjang lebar……


  41. […] dengan menjaganya. “Lawamena” sebagai bentuk penghormatan tertinggi bagi Sang Pencipta. “Upulatu dan Inalatu” sebagai pemimpin dan teladan bagi seluruh Masyarakat […]


  42. […] terhadap Alam dengan menjaganya, tidak mengambil secara berlebihan. Juga konsep kepemimpinan ala “Upulatu dan Inalatu” sebagai teladan bagi seluruh Masyarakat […]



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: